Kamis, 08 November 2018

Rinduku...cintaku...



Malam telah mendatangiku. Disini di pondok suramku. Dan...dingin menyambut tulang belulang serta kulit tubuhku. Membekukan darah yang mengaliri lorong-lorong ingatanku. Detak jantungku...mulai melambat,mulai meredup. Aku tak tahu,apakah aku bisa melewati malam ini dengan tenang. Melewati malam ini tanpa harus meratap,merangak,merengkuh sedikit harapan. Aku tak tahu. Aku tak tahu.
Sekian waktu belalu cepat. Ku terpojok di sudut ruang. Hampa. Hanya terdengar jetit jam dinding yang tak terkalahkan. Aku larut dalam ingatan. Ku pandangi wajah ini dalam bingkai cermin. Terlukis berjuta kenangan. Yang pernah singgah dalam onak dan benakku. Terpatri erat,seolah tak bisa ku hindari. Aku hanya pasrah.
Lima tahun lalu aku mulai mengenalmu. Kau yang begitu lembut. Begitu ramah. Begitu mempesonaku. Kau...hanya dirimu...yang meruntuhkan sebagian imanku. Aku tak mengingkari jika diriku telah larut dalam buai asmaramu. Dan kita lewati hari itu dengan senyum,dengan tawa,dengan semua keindahan cinta. Dan kau begitu mulia. Ku jadikan dirimu permaisuri hatiku dan ku bina sebuah mahligai cinta. Dalam kalbu mulia sang jiwa.
Waktu terus berlari tanpa henti. Masih kita lalui hari-hari dengan keindahan dunia. Hingga...dia datang kepadaku!
Lima bulan ku mulai menghindar darimu. Mencoba mencari makna. Melampaui masa. Menelusuri ruang sepi dalam sisa nafasku. Ku pandangi dirimu di kejauhan. Kau berputar mencari keberadaanku. Tapi aku tak bisa. Aku tak mampu. Aku berlari...dan terus berlari...jauh mengejar kepayahanku. Ku pandangi kau memanggil namaku. Tapi...aku tak bisa dan tak mampu. Hingga bayangmu tersungkur dan meratapi kepergianku. Mf...aku tak bisa. Aku tak mampu.
Lima minggu ini aku hanya bisa mendengar kabarmu dari bisikan angin lalu. Kau masih mencariku. Menyelidiki keberadaanku. Dan ku ingin menemuimu. Tapi aku tak kuasa jika harus berhadapanmu. Ku hempaskan tubuhku ddi paang gersang yang panas. Menguilan diriku sendiri dalam tangisan. Mengunci mati asaku. Aku menangis dalam ketakberdayaanku. Meraung jiwaku mengingat dirimu. Berontak jiwaku karena wujudmu dalam ingatanku. Oh,otakku. Oh,benakku. Sakit..!!!
Lima hari ini. Aku di sini. Lamunan tadi telah menggugurkan kristal-kristal bening.
Mengalir deras membasahi ruang hampa diri ini. Membuat jiwa ini inginkan dirimu. Jujur aku haus. Haus akan kehadiranmu. Kau,yang begitu berarti dalam hidupku. Tapi...aku tak bisa. Aku tak mampu.
Lima jam telah ku lewati. Dan aku masih disini. Jendela masih memantulkan cahaya bintang kecil di sana. Sinarnya telah redup tertutupi awan. Aku masih di sini. Terpaku diriku menatap selembar kertas suci. Yang tertulis kisah pelarianku. Dan segumpal darah yang mulai membeku. Aku telah pergi dalam sepi. Aku telah berlalu dalam tangis diamku. Ku ingin kebahgiaan ini tidak cepat berlalu. Aku terkapar di sisa harapanku.

"Dear Rindu bidadari hatiku...
  Saat dirimu membaca surat ini,mungkin aku telah pergi,jauh meninggalkanmu. Dan tak akan kembali. Aku akan membawa semua kenangan kita berdua,semua citab-cita kita,yang pernah kita ikrarkan bersama.
"Dear Rindu kekasih hatiku...
  Maaf jika aku menjauh darimu. Aku hanya ingin kau bahagia dalam dunia ini. Kau bisa melewati hari-hari indahmu tanpa beban yang memebanimu. Aku ingin engkau selalu bisa tersenyum dan tertawa. Dan lupakan diriku yang rapuh oleh sakitku. Aku harus rela. Aku memang ikhlas. Cinta yang ku berikan dan kutitipkan padamu hanyalah jadi bias ungu di sisi gelap masa lalumu. Aku ikhlas jika kau membenciku,memakiku dan kecewa padaku karena kebodohanku. Percayalah,...aku sangat...sangat mencintaimu...
 "Dear Rindu...
   Aku harus pergi. Janganlah engkau bersedih. Janganah engkau hilang arah. Karena aku t ahu,kau lebih tegar dalam hidupmu. Aku hanya bisa berdoa dan berharap,semoga kau bahagia dalam hidupmu.
 "Cintaku Rindu...
Aku benar-benar mencintaimu...
Maafkan aku..


Ryan...with love.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar