Jumat, 23 November 2018

Sesak....

Sesak dadaku karena sikapmu
Bermain api dengan peledak di genggaman
Akankah bertahan?
Sesak dadaku karena dirimu
Bersenda dalam gurauan tak berarti
Aku sudah tak perduli lagi
Sesak dadaku karena keegoisanmu
Mendesak ketakutan dan keinginanku
Merana ruang hati di tinggal mati
Sesak dadaku
Kau tak lagi kawanku

Selasa, 13 November 2018

Pagi ini....

Pagi ini....

Pagi ini mendung membubung. Udaranya basah sedingin salju. Merapatkan geraham dan mendekap peluk sendiri. Dingin mencekam meskipun hujan telah lewat semalam. Namun,tubuhku goyang terpuruk di gubuk penuh luka.
Pagi ini terasa kehilangan dan ketakutan melanda. Debar jantng dan getar hati melebur dalam kesendirianku. Mata menatap malas ke luar sana. Kaki terasa berat menapak. Tubuhku goyah dikalahkan keadaan. Meski semangatku masih tersisa. Sekujur tubuhku menggigil menanti kepulangan. Menatap keberanian.
Pagi ini mungkin adalah awal dan akhir. Berbisik di telingaku ayat-ayat melantun tak henti. Menerriakkan keagungan. Mengajakku sadar menuntun ke cahya kebahgiaan. Dan berjuta tatapan mata penuh harapan penuh kebimbangan. Begitu dalam. Begitu berat. Begitu menghunjam asa ku di sisi kesendirian.
Pagi ini aku terbujur kaku. Mendengar detik waktu berlari kencang. Melirik alam menatap kosong kehampaan. Dan aku mulai hilang teman. Kelam di lubuk sunyi. Hitam di benak berduri. Sesak menembus kalbu. Gerah dan haus menerpa rongga jiwa. Menepi sudah segala asa.
Pagi ini. Sebungkus putih pergi. Menatap takdir wahai insani.

Senin, 12 November 2018

Hening Hatiku...

Hening hatiku...

Hening hatiku menyepi sendiri. Saat kegundahan melanda. Menyibak kisah tak terbatas ruang dan waktu. Menyeruak kala dilema merasuk meneror kalbu. Di landa kegaduhan menerpa sendi kasih dan cinta.
Hening hatiku mendulang keangkuhan. Menatap sombongnya mentari membakar raga. Aku terpuruk dalam fana. Kedengkianku menembus tulang dan darah. Menggenggam takdir bertiraii sutra surga.
Hening hatiku membisu dalam perihnya luka. Wajah lusuhku menggambar asa dan iba. Ketakutanku akan hadirnya utusan penguasa. Putih merona pipi sang raja. Bergetar langit mendengar serapah tak terduga. Membuka dendam suci tentang dunia nirwana. Menembus relung hati membinasakan bahagia.
Hening hatiku wahai jiwa
Hening hatiku wahai cinta
Heninf hatiku mencari arti
Kemulianmu bertahta kasih sealam surga

01.37 - 02.48

01.37 - 02.48

01.37
Dini hari menyambut pagi.
Dan aku masih disini..
Di rebahan pembaringan
Mataku tak mau terpejam.
Di kekang kopi hangat malam ini
Kehangatannya masih membakar mata merahku
Menerpa paru-paru,jantung serta lambung lemahku
Membuat rasa kantukku mengalah menepi disisi ruang sepi
Menelantarkanku di tengah dingin malam menusuk tulang belulangku
Gersang...
Begitu sunyi...
Begitu hampa di kegelapan dan heningnya malam
Hanya suara liar penghuninya kadang terdengar
Serta gigitan nyamuk kecil memalingkan wajah senduku di pembatas ruang
Antara nyata dan mimpi
Terasa asing ku di lembah kegelapan
Berkelana dalam ruang dan waktu yang berputar kencang
Membolak balikkan arah dan tujuan
Dalam dilema syahdu diriku yang terbuang
Duhai...
Dimanakah rasa kedamaian...
Dimanakah asa akan mengakhiri cerita kebohongan
Dengan senyum kepalsuan
Dengan tawa kemunafika
Dengan sombong terukir bentuk kelaliman
Duhai
Hampirilah aku yang keseorangan
Meniti arah
Gelam tanpa tujuan
Duhai...
Menyepi daku dalam pembaringan dan harapan
Hasrat bertemu tapi tak kesampaian
Menuntut kematian yang tak kunjung datang

02.48
Pagi menyapaku dengan kemuliaan
Membawa dambaan menyeruak keinginan
Mataku telah terpejam

Sabtu, 10 November 2018

Cermin Bingkai Lusuh

Cermin bingkai lusuh

Menatap semu wajah lusuh di bingkai dan cermin lusuh. Terekam sejarah dan cerita penuh luka dan bernanah. Membusuk dalam yang terlukis dari gurat-gurat celaka di rupa. Keras. Kehidupan yang di jalani,yang sedang di lalui,dan akan di hadapi. Bukan. Bukan luka...bukan sakit. Bukan...buka tangis dan tintihan. Bukan...bukan kepiluan dan kenistaan. Tidak. Tidak dan tidak. Seluruh hidup memang harus begitu. Karena goresan takdir yang berat dan berduri telah di patri. Karena irama hidup meraung meninggalkan kenangan pahit manis deritanya.
Merenung dalam kilauan cermin di pantulan cahaya surya. Merobek segala asa. Kepergian dan kehadiran bayang semu. Menuai dendam,meracik kebencian. Sesuka bibir bicara. Mencaci maki roda kehidupan. Menampar borok derita sukma. Meronta kedengkian akan janji suci saat berjumpa,gersang dan hampa. Menutupi rupa meleleh air mata. Tangis tidak jafi sahabat yang menyenangkan. Pilu kini jadi sandaran ketakmampuan. Sampai lumpuh.
Cermin dengan bingkai lusuh. Tak bisa merubah bentuk. Tak mungkin membelokkan nasib. Tak mampu melukis keindahan. Tak akan bicara palsu dan kedustaan. Apa adanya.
Rupa yang tertutupi gurat-gurat keras ini bukan kelemahan. Hitam membekas erat bukan kematian. Itulah semangat. Dan terus mengiringi kesakitan. Wajahmu. Wajahku. Wajah mereka. Dan kehidupan harus berlanjut. Bukan dengan tangis air mata. Bukan dengan rintihan meminta cinta. Tapi kerja keras melampaui asa. Membimbing hati merajut cita. Biar luka dan sakit jadi bahagia. Seakan sorga telah di depan mata.
Carmin dan bingkai lusuh. Selalui menunggu cerita-cerita engkau. Menanti rintih tangis dan derai air mata. Dan...cermin yang berbingkai lusuh akan membawamu kembali. Akan mengajakmu terbang mengunjungi alam keinsyafan. Dunia tidak selalui di hadirkan senyum dan tawa. Karena jauh di sudut sana,ada secercah harapan untuk pulang.

Maaf....

Maaf

Aku...
Binasa dalam kesombonganku...
Tegak menatap langit biru...
Terbakar wajah angkuhku...

Aku...
Tersungkur dalam kekuatan palsu
Merangkak kepayahan 
Berpegang dengan tali kematian

Aku...
Berlutut dalam tangis yang tak putus
Bermohon dan berharap belai kasihmu
Meminta kebaikan menginginkan kemaafan

Aku...
Yang terbuang dalam jurang kenistaan
Menyusun jari merapatkan telapak tangan
Menggumam kata penuh kepasrahan

Aku...
Adalah bagian dari milikmu
Hanyalah sekecil kekuasaanmu
Yang bertumpu dengan kasih sayangmu
       "Maafkan daku...."

Hujan Di Luar Sana

Hujan Di Luar Sana

Hujan di luar sana
Seakan akan membuat diriku menepi di sudut kamar sempitku
Menebar dingin yang menyeruak menggerogoti tulang belulangku
Membuat ku terpojok lemah dalam sesak pikiranku
Menebar ketakutan dalam sisi kehidupanku.
Petir yang menggelar...
Derai hujan yang membahana menghantam bumi
Bersahutan tak bergeming
Membuat ragaku beku di landa kepasrahan
Apakah ini akhir hidupku..
Apakah ini ujian ketabahanku
Apakah ini benar benar lingkar nasibku
Meronta jiwa ragaku
Hujan di luar sana
Seakan akan menenggelamkan kalbu asaku
Untuk berdiri tegak menantang kebisuan jawabku
Menghalangi maksudku memeluk sakitnya hasratku
Hujan di luar sana
Membunuh kemampuanku

Jika engkau...

Jika engkau tak lagi cintaku. Usir saja rasa sayangmu padaku. Hilangkan saja semua rindumu tentng keberadaanku. Singkirkan saja seluruh baang dan cerita diriku. Dan aku akan rela dengan semua itu.
Jika engkau inginkan aku mati. Maka bunuhlah diriku. Karena engka berhak akan nasibku. Karena engkau adalah pengusa jiwaku. Dan kau bebas untuk masa aku. Engkau lebih tahu tentang keyakinnmu. Dan srmua dosa dan kesalahanku. Mungkin tak bisa lagi ku lari dari semua cengkramanmu. 
Jika memang engkau sudah selesai denganku. Maka ambillah seluruh roh ku. Karena kini jadadku tak lagi berguna bagimu. Agar semua mata dunia membenci dan mencaci maki perjalanan hidupu. Dan alam menindihku. Membuat sesak nafas dan aliran darahku. Serta menyisakan sedikit harapan dalam kematian. Kematian yang selalu menghantui tidur nyenyakku. 
Dan jika engkau memang begitu. Maka kematianlah yang pantas untukku 

Binasa aku



Dan....
Kebencian itu menusuk menghunjam dalam relung hatiku
Membelah melumat isi di belahan nyawa hidupku
Mehjerit sukma
Meraung memaki-maki hasratku

Dan...
Kebengisan menjalar merebak menelusuri jalan darahku
Memporak porandakan aliran nafasku
Detak kehidupan mulai membeku
Mematikan pompa keimananku

Dan...
Kehidupan sudah di batas perjalanan
Merenggut mimpi dan kisah
Membuai angan tak pasti
Aku terpisah ribuan cerita

Dan...
Kulewati mati dengan tangisan airmata darah
Dengan merangkak melalui lorong hampa
Kuterpana....
Kuterkesima...
Aku tak kuasa

Dan....
Binasa aku

Kamis, 08 November 2018

Rinduku...cintaku...



Malam telah mendatangiku. Disini di pondok suramku. Dan...dingin menyambut tulang belulang serta kulit tubuhku. Membekukan darah yang mengaliri lorong-lorong ingatanku. Detak jantungku...mulai melambat,mulai meredup. Aku tak tahu,apakah aku bisa melewati malam ini dengan tenang. Melewati malam ini tanpa harus meratap,merangak,merengkuh sedikit harapan. Aku tak tahu. Aku tak tahu.
Sekian waktu belalu cepat. Ku terpojok di sudut ruang. Hampa. Hanya terdengar jetit jam dinding yang tak terkalahkan. Aku larut dalam ingatan. Ku pandangi wajah ini dalam bingkai cermin. Terlukis berjuta kenangan. Yang pernah singgah dalam onak dan benakku. Terpatri erat,seolah tak bisa ku hindari. Aku hanya pasrah.
Lima tahun lalu aku mulai mengenalmu. Kau yang begitu lembut. Begitu ramah. Begitu mempesonaku. Kau...hanya dirimu...yang meruntuhkan sebagian imanku. Aku tak mengingkari jika diriku telah larut dalam buai asmaramu. Dan kita lewati hari itu dengan senyum,dengan tawa,dengan semua keindahan cinta. Dan kau begitu mulia. Ku jadikan dirimu permaisuri hatiku dan ku bina sebuah mahligai cinta. Dalam kalbu mulia sang jiwa.
Waktu terus berlari tanpa henti. Masih kita lalui hari-hari dengan keindahan dunia. Hingga...dia datang kepadaku!
Lima bulan ku mulai menghindar darimu. Mencoba mencari makna. Melampaui masa. Menelusuri ruang sepi dalam sisa nafasku. Ku pandangi dirimu di kejauhan. Kau berputar mencari keberadaanku. Tapi aku tak bisa. Aku tak mampu. Aku berlari...dan terus berlari...jauh mengejar kepayahanku. Ku pandangi kau memanggil namaku. Tapi...aku tak bisa dan tak mampu. Hingga bayangmu tersungkur dan meratapi kepergianku. Mf...aku tak bisa. Aku tak mampu.
Lima minggu ini aku hanya bisa mendengar kabarmu dari bisikan angin lalu. Kau masih mencariku. Menyelidiki keberadaanku. Dan ku ingin menemuimu. Tapi aku tak kuasa jika harus berhadapanmu. Ku hempaskan tubuhku ddi paang gersang yang panas. Menguilan diriku sendiri dalam tangisan. Mengunci mati asaku. Aku menangis dalam ketakberdayaanku. Meraung jiwaku mengingat dirimu. Berontak jiwaku karena wujudmu dalam ingatanku. Oh,otakku. Oh,benakku. Sakit..!!!
Lima hari ini. Aku di sini. Lamunan tadi telah menggugurkan kristal-kristal bening.
Mengalir deras membasahi ruang hampa diri ini. Membuat jiwa ini inginkan dirimu. Jujur aku haus. Haus akan kehadiranmu. Kau,yang begitu berarti dalam hidupku. Tapi...aku tak bisa. Aku tak mampu.
Lima jam telah ku lewati. Dan aku masih disini. Jendela masih memantulkan cahaya bintang kecil di sana. Sinarnya telah redup tertutupi awan. Aku masih di sini. Terpaku diriku menatap selembar kertas suci. Yang tertulis kisah pelarianku. Dan segumpal darah yang mulai membeku. Aku telah pergi dalam sepi. Aku telah berlalu dalam tangis diamku. Ku ingin kebahgiaan ini tidak cepat berlalu. Aku terkapar di sisa harapanku.

"Dear Rindu bidadari hatiku...
  Saat dirimu membaca surat ini,mungkin aku telah pergi,jauh meninggalkanmu. Dan tak akan kembali. Aku akan membawa semua kenangan kita berdua,semua citab-cita kita,yang pernah kita ikrarkan bersama.
"Dear Rindu kekasih hatiku...
  Maaf jika aku menjauh darimu. Aku hanya ingin kau bahagia dalam dunia ini. Kau bisa melewati hari-hari indahmu tanpa beban yang memebanimu. Aku ingin engkau selalu bisa tersenyum dan tertawa. Dan lupakan diriku yang rapuh oleh sakitku. Aku harus rela. Aku memang ikhlas. Cinta yang ku berikan dan kutitipkan padamu hanyalah jadi bias ungu di sisi gelap masa lalumu. Aku ikhlas jika kau membenciku,memakiku dan kecewa padaku karena kebodohanku. Percayalah,...aku sangat...sangat mencintaimu...
 "Dear Rindu...
   Aku harus pergi. Janganlah engkau bersedih. Janganah engkau hilang arah. Karena aku t ahu,kau lebih tegar dalam hidupmu. Aku hanya bisa berdoa dan berharap,semoga kau bahagia dalam hidupmu.
 "Cintaku Rindu...
Aku benar-benar mencintaimu...
Maafkan aku..


Ryan...with love.

Rabu, 07 November 2018

Pagi dunia.....

SEPERTI BIASA

Seperti biasa di pagi ini
Embun membekuan jalan darahku
Keheningan selimuti dukma hatiku
Suara alam iringi sang surys

Seperti biasa di pagi ini
Secangkir kopi hangat temani bathin bekuku
Sepotong roti mengganjal rass laparku
Seulas senyum bibir manis dara putihku

Seperti biasa di pagi ini
Hiruk pikuk mesin merongrong telingaku
Pekik maki mereka yang di kejar waktu
Sesak dadaku membaur dengan dunia

Seperti biasa di pagi ini
Tak ada yang berarti
Seperti biasa seperti biasa
Semua dalam garis hidupnya

Dan...
Seperti biasa....
Aku disini
Menjadi aktor dan penonton
Gejolak duniaku yang bergolak

Seperti baiasa di pagi ini

Bunga

RINDU CINTA ASMARA

Seandainya rindu ini berbalas cinta
Akan ku hiasi relung hati dengan untaian berlian delima
Ku kabarkan pada alam tentang kebahagiaan 
Ku katakan pada sepi jika ia bukan lagi teman
Karena aku kini bertahta dalam singgasana gemilang
Seandainya cinta ini berbunga asmara
Akan ku isi kalbu ini dengan berjuta cerita
Tentang aku
Tentang kamu
Cerita kita
Seandainya asmara ini milikku
Akan ku tulis dalam riwayat hidupku
Bahwa seluruh dunia menyapa kita dalam damai kesyahduan
Dan kita
Adalah satu
Adalah rindu
Adalah cinta
Adalah asmara
Terbuai dalam cerita indah yang tak berakhir
        "Untukmu bunga...."

Angan....Harapan....Mimpi....

S E N J A
Senja menyapaku dalam hening...
Mengajakku bermain dalam angan...
Angin...
Dingin...
Sepi...
Merendahkan iman dan harapanku...
Seakan aku akan hilang di dunia...
Suara alam memusingkanku...
Hiruk pikuk mereka tertawa...
Aku terkapar terhimpit asa...
Dan pergi meninggalkanmu....
Senja telah berlalu...
Dan aku masih disini....

Selasa, 06 November 2018

Manusia dan keunikannya

Assalamualaikum,...
Apa kabar sahabat semua? Mudah-mudahan selalu sehat dan selalu dalam kebahagiaan yang berlipat ganda. Aamin.
Sahabat,kembali saya menemui sahabat dalam blog saya ini. Semoga tulisan-tulisan saya bisa menjadi inspirasi dan motivasi sahabat dan kita semua.
Sahabat...
Kita adalah sesuatu yang unik yang di ciptakan Allah SWT, Tuhan semesta alam. Keunikan tersebut terlihat dalam bentuk lahir dan bathin. Keunikan ini yang telah menyempurnakan bentuk kita,lahir maupun bathin. Sadar atau tanpa kita sadari,kita telah melewati batas dari berbagai bentuk ujian,baik itu ujian yang terlahir maupun yang tersirat. Ujian dalam bentuk tersurat adalah ujian dalam menjalani hidup. Keras,penuh pengorbanan,suka dan duka,demi untuk melanjuttkan hidup. Ujian dalam bathin juga telah dan sedang kita jalani. Bagaimana kita nencoba melawan dan menahan hawa nafsu,menawan rasa dan menuntunnya agar kita tenang,bahagia. Kedua ujian itu akan terus kita hadapi hingga ajal menjemput kita. Dan keduanya kita lewati karena keunikan pada diri kita.
Sahabat...
Manusia itu adalah makhluk yang unik dan komplek. Keunikan tersebut yang membedakan kita dari makhluk lain. Kita di berikan kelebihan dari makhluk lainnya. Kelebihan itu berupa akal dan rasa. Akal membuat kita berpikir dan bertindak dengan bimbingannya. Dengan akal kita bisa menyelesaikan berbagai macam persoalan yang kita sebut ujian tadi. Dengan pertimbangan dan kecerdikan akal,manusia seolah dapat melewatu batas kemanusiwiannya. Dengan akal,manusia menjadi makhluk sempurna tapi tidak sempurna. Karena masih ada satu hal yang menyempunakan bentuk dan wujud kemanusiaan itu. Utulah hati atau rasa. Hati itu berperan menimbang baik buruk sesuatu,dan memberikan jawaban perasaan yang impkisit. Dengan hati,tindakan ajal dapat dikontol,sebab di dalam hati tertanam rasa yang baik. Hati juga adalah teman di kala suka maupun duka. Hati juga yang menjadi tempatnya cahaya,cahaya keimanan. Hatilah rumah kebahagiaan itu.
Sahabat,...manusia begitu luar buasa. Manusia dapat mencipta bermacam-macam hal,yang bisa di luar penalaran kita. Lihatlah,gedung-gedung pencakar langit yang menjulang,kereta cepat yang berjalan dengan kecepan luar biasa. Kapal laut yang dapat membelah lautan dan menjelah dari ujung dunia ke ujung dunia lain. Dan bahkan,manusia merencanakan akan tiinggal si luar angkasa. Sungguh luar biasa kemampuan kecerdasan manusia. Kemampuan ini membuat manusia adalah sang penguasa.
Sahabat...kemampuan manusia tersebut sering membuat manusia jadi sombong dan angkuh. Kenikmatan yang ada tersebut membuat manusia egois dan mau menang sendiri. Bahkan memunculkan sifat ungin menguasai manusia lainnya. Tersebut di sini persaingan antar manusia,yang di kenal dengan 'perang'. Masing-masing ingin berkuasa dan berkuasa. Dan keunikan manusia ini yaitu akal telah menempatkan manuaia dalam jurang kehancuran sebuah kehidupan. Lalu,bagaimana dengan hati? Hati juga berperan dalam kehebatan manusia tersebut. Hati menjelma sebagai mesin pendirong yang kuat. Dengan pertimbangannya,hati memberikan pendapatnya tentang tindak tanduk perbuata manusia. Jika baik ucapan hati,maka baik juga perbuatan manusia,begitu sebaliknya,jika jahat kata hati,maka jahat pula tindakan manusia.  Akal itu berpikir dan bertindak,hati itu mendoring,memotivasi perbuatan manusia. Dan dua hal yang unik inilah yang membentuk kehidupan manusia. Dan keunikan itu hanya milik manusia.
Sahabat...akal dan pikiran,hati dan perasaan yang telah di berikan Tuhan ini adalah anugerah yang tak ternilai harganya. Kemampuan akal dalam berpikir dan mencipta ibarat alam semesta. Angan dan mimpi manusia tidak berbatas. Dan terus berkembang. Hati dan perasaan mencipta nafsu dan keingin yang juga tak pernah puas. Nafsu akan selalu meliputi hati. Angan dan mimpi yang di iringi nafsu,menjadikan manusia-manusia hebat tersebut. Dan keunikan manusia telah mencapai hal yang di luar daya akal itu sediri,an seolah menipu manusia itu sendiri. Keinginan manusia yang melewati batas kemanusiaan juga tekah membutakan mata hati. Dan akhirnya manusia menjadi makhluk unik yang merusak. Merusak kelangsungan hidup mereka. Sadar atau tanpa di sadari,manusia telah jatuh dalam kehancuran diri mereka sendiri. Akhirnya,manusia telah hilang,yang ada hanyalah akal dan nafsu.
Sahabat...kehidupan ini hanyalah sementara dan jembatan dakam menuju kehidupan akhir. Kehidupan yang kita jalani,yang kita lalui dengan keunikan kita,telah membawa kita hilang kendali. Banyak di antara kita telah berubah menjadi wujud makhluk lain yang tidak unik. Dan manusia hilang derajatnya.
Sahabat...apakah kita ingin seperti itu? Tentu tidak. Kita ini harus bisa menjaga dua hal unik dalam diri kita tersebut ke arah yang lebih baik. Menjaga akal dan hati agar kedua seimbang dan selaras,yang bisa berbuat baik,naik dalam mencipta dan berkehendak,agar tudak melampaui batas. Dan kita harus dadar bahwa kedua keunikan yang kita puna bisa saja hilang diambil oleh Tuhan,dan jadilah kita seperti makhluk tanpa makhluk.
Sahabat....semoga,kita menjadi makhluk yang unik,tetapi keunikan itu tidak membuat kita salah dalam menjalani hidup. Semoga.

Jumat, 02 November 2018

Soul in Heart...with Religi

Assalamualaikum...
Selamat malam sahabat,selamat menikmati waktu istirahat sahabat. Kembali lagi saya ingin berbagi cerita,yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Tanpa panjang lebar,mari kita lanjutkan sedikit cerita yang mungkin bisa menjadi motivasi kita bersama.
Sahabat,...apakah sahabat telah mengenal jiwa sahabat masing-masing? Apakah sahabat telah berbuat sesuatu dengan jiwa sahabat? Bagaimanakah sahabat memperlakukan jiwa sahabat? Seberapa jauh hubungan jiwa dengan sahabat?
Pada postingan yang lalu,saya telah menjabarkan secara singkat tentang jiwa itu. Setelah mengetahuinya,maka timbul pertamyaan-pertanyaan seperti di atas.
Sahabat,..perlu di ketahui bahwa jiwa itu bisa terbentuk sejak lahir (sifat dari kecil/keturuna). Itu adalah hal pertama. Kedua,melalui proses yang panjang,jiwa itu mulai berkembang,dan terus berkembang. Banyak hal yang mempengaruhi perkembangan jiwa itu. Keluarga,faktor utama mempengaruhi jiwa. Keluarga adalah awal pembentukan jiwa. Orang tua,ayah dan ibu adalah aktor utama dalam pembentukan jiwa. Orang tua yang keras dan mendidik dengan cara yang keras akan melahirkan jiwa yang keras pula. Atau,orang tua yang memberikan pengajaran dalam hidup dengan pola sederhana,akan melahirkan jiwa yang sederhana. Kesimpulannya,keluarga,terutama orang tua,akan membentuk jiwa anak-anak mereka,bagaimana jiwa anak tersebut.
Ketika anak mulai beranjak remaja,mereka mulai mengenal kehidupan,meskipun dalam lingkaran pendidikan sekolah. Di sini,anak mulai ingin mengenal jati dirinya. Knp? Saat remaja,anak mulai mempunyai jiwa yang bergelora,keinginan yang kuat,perkembangan otak dan pemikiran mereka mulai terbuka. Mereka mulai di hadapkan dengan berbagai hal yentang dunia luar. Saat ini,jiwa anak mudah dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Tidak heran,banyak di antara mereka menjadi remaja penantang,pembetontak,dan mudah dipengaruhi. Jika mereka salah dalam melangkah,maka jiwa mereka akan tersesat. Jika jiwa mereka telah tersesat,maka sulit untuk memperbaikinya,meskipun demikian,harapan untuk kembali masih terbuka.
Setelah anak mulai beranjak dewasa,jiwa-jiwa mereka telah terbentuk,namun masih belum sempurna. Tetapi,sejujurnya,mereka belum mengenal jauh jiwa mereka. Kedewasaan yang dimiliki masih goyah,masih mudah di pengaruhi oleh hal-hal yang bisa membuat mereka tersesat. Lantas,bagaimana kita bisa mengenal jiwa agar tidak tersesat?
Iman,keyakinan....akan membawa setiap orang mengenal jiwa mereka. Keimanan dan keyakinan akan membentuk jiwa-jiwa yang baik,sebab iman atau keyakinan selalu mengajarkan hal-hal yang baik. Semakin dalam kita berkeyakinan atau iman kita,maka semakin kuat kita mengenal jiwa kita. Namun,perlu di ketahui,ada juga beberapa orang yang mengenal jiwa mereka tanpa keimanan atau keyakinan. Tetapi,jiwa yang di bentuk adalah hampa,egois,penuh dengan kedombongan dan goyah. Jiwa tanpa bimbingan,mudah rapuh oleh kerasnya kehidupan. Jiwa mereka yang di selimuti keimanan,akan membentuk pribadi-pribadi yang baik. Oleh sebab itu,jadikanlah jiwa itu keyakinan,dan keyakinan itu jiwa kita. Keimanan dan keyakinan membuat jiwa yang tulus,jiwa yang kasih dan sayang,jiwa yang ikhlas,jiwa yang selalu tersenyum di dalam suka dan duka kehidupan.
Sahabat....disini dapat di tarik kedimpulan bahwa jiwa itu adalah bentuk halus dalam diri manusia,yang di bentuk melalui proses yang panjang,apa dan bagaimana srrta ke arah mana jiwa itu akan terbentuk. Namun,jiwa itu membutuhkan bimbingan. Dan,keimanan serta keyakinan akan nilai-nilai agama akan membentuk jiwa yang baik pula.
Sahabat...jiwa yang besar adalah jiwa yang baik,yang ikhlas dan mau berbuat,beryindak dan hidup dalam kedamaian. Semoga jiws kita termaduk jiwa yang baik.

Soul In Heart....with Love

Assalamualaikum
Apa kabar sahabat semua...,semoga sahabat semua dalam keadaan sehat dan selalu dalam lindungan,rahmat dan berkat Allah SWT, Tuhan semesta alam.
Kepada sahabat yang bukan beragama Islam,saya ucapkan salam sejahtera dan salam jumpa.
Kembali saya disini ingin berbagi cerita,semoga dapat menjadi inspirasi buat kita semua.
Baiklah,tanpa membuang waktu,mari kita coba mencari pencerahan,sedikit tapi mungkin bermakna bagi kita.
Jiwa...begitu dia di sebut. Jiwa biasa di sebut juga bagian dari raga,yang di anggap satu kesatuan utuh yang tak bisa di pisahkan. Tanpa jiwa,raga itu mati. Tanpa jiwa,raga itu hilang makna. Itulah sebabnya,orang-orang atau mereka yang hilang 'jiwa'nya,menganggap diri mereka tidak lagi berarti dalam hidup. Mengapa harus jiwa?
Jiwa itu letaknya hasrat dan keinginan (nafsu),letaknya keyakinan dan semangat,serta letaknya bahagia dan kesedihan. Jiwa juga tempat bertanya,teman di segala suasana,paling bijak dan pengertian,paling dekat dan mungkin tak terpisahkan. Tapi...jiwa juga tempat berputus asa,tempat hilangnya kekuatan,tempat paling hina dan di benci....!!
Lalu,siapakah itu jiwa? Apa dan mengapa jiwa? Untuk apakah jiwa?
Sahabat,jiwa itu bukan siapa,tapi lebih dekat kepada kita sendiri. Lho? Jiwa adalah relung hati yang paling terluar,kalbu adalah relung hati yang terdalam. Jika kalbu lebih dekat kepada keimanan,maka jiwa lebih dekat dengan kehidupan. Jiwa itulah yang membangun semangat untuk berbuat sesuatu,menciptakan rasa,menghadirkan kepandaian dan kebijaksanaan. Jiwalah yang selalu menjadi lawan perdebatan dalam hidup. Jiwa tak lepas dari norma-norma kehidupan. Jiwalah yang menbentuk diri,mau du apakan diri ini,mau kemana arah diri,dan akan jadi apa diri ini. Jiwalah yang berbesar hati atau berat hati dalam mempertimbangkan sesuatu. Jiwalah kita,dan kitalah jiwa.
Sahabat,jiwa itu ada dan pasti ada. Jiwa terbentuk saat pertama kita mengenal rasa,kenapa? Karena rasa itu membentuk berbagai macam jiwa. Jika jiwa kita lemah,maka kita mudah putus asa. Tidak semangat dalam segala hal. Penyendiri dan tertutup. Jika jiwa diliputi amarah,benci,menunjukkan jiwa terrasuki rasa hawa nafsu jahat,sehingga jiwa itu mudah berontak,mudah hilang arah dan bisa tersesat dalam hidup. Jika jiwa itu di naungi kabut kasih sayang,maka akan lahirlah rasa cinta,kebahagiaan,ketenangan dan kesempurnaan.
Sahabat,jiwa itu memang harus di bentuk sejak kecil. Jiwa harus di bangun sejak dini. Butuh keberanian dan bimbingan dalam membentuk jiwa,sebab tanpa keberanian,jiwa sulit untuk dikalahkan,dan tanpa bimbingan,jiwa bisa tersesat. Jiwa yang di bentuk harus bisa menjadi jiwa yang besar,yang sanggup menghadapi dunia dengan segala sepak terjangnya. Keras dan penuh tantangan. Untuk itulah,dibutuhkan kerja keras dalam memahami jiwa itu sendiri. Dan butuh bimbingan yang baik yang akan membentuk jiwa yang baik juga. Lalu,bagaimanakah membentuk jiwa tersebut?
Kita lanjutkan nanti pada pertemuan berikutnya...
Wassalamualaikum wr.wb.