Selasa, 28 Mei 2019
Dia yang disana....
Dia tak sekokoh gunung-gunung di sana...
Dia tak setegar batu karang di bibir pantai
Dia tak seindah langit luas membentang
Tak selembut awan berarak
Tak secerah mentari menyinari bumi
Tak seanggun purnama di kala malam menyapa....
Dia hanyalah si tua bangka beralaskan sendal jepit
Lusuh baju,kusut dan beraroma keringat di sertai kulit yang terpanggang matahari
Matanya tajam menatap ke depan
Menyapu setiap jengkal tanah,mengurai lelah dengan kekuatan hati
Baja di dada,lembut dilidah,teguh dalam menoreh lembar kehidupan
Di jari jemarimu kau tuliskan berjuta kisah,luka,memar,memerah membiru,membekas dalam kisah....
Di telapak kakimu yang pecah,merobek keperihan,tusukan-tusukan duri,kaca,yang berkarat dan kotor,menyiratkan langkahmu yang jauh menenangkan takdirmu yang kelam...
Kau korbankan jiwa demi secercah sisi kehidupan...
Kau benamkan raga dalam lumpur kehinaan...
Hanya untuk senyum merekah dihati mereka yang tercinta...
Nafasmu yang mulai menghela kelelahan
Seiring dengan usiamu yang telah banyak berkurang
Tak menyurutkan langkah tegapmu di dunia yang kejam
Saat malam menyapamu dalam dekapan dingin menusuk tulang rapuhmu
Tak sedetik pun kau tinggalkan untuk mengadu menceritakan keluh kesahmu
Bergetar bibir,bersenandung dalam nyanyian airmata
Bersimpuh dalam rangkulan kasih sayang Maha Kuasa
Kau titipkan sedikit cerita sedih dalam buaian derita
Kau unjukkan rasa bahgia dalam kebohongan yang tak bersela
Kau inginkan satu bahagia buat mereka
Sebelum panggilan menjemput nyawa...
Dia,yang tua yang tegar,ketas menerpa lorong hidup
Masih di sini
Didunia fana...
Senin, 27 Mei 2019
Sesat
Sesat
Dan aku menangis dipelukan panasnya sang surya...
Menggerung meronta menggumpal memuncak meletukan hampa...
Ragaku kering kehausan dalam padang gersang tak bicara...
Air mataku terus mengalir meratapi kesendirian...
Menatap langit,mencoba merenggut sedikit kebahagiaan disisi kegelapan...
Bisu...
Hampa...
Tandus...
Menepi di kelam dunia kepiluan...
Dan aku terdiam...
Merenung sunyi mencari setitik sinar terang...
Mentari tak lagi menghiasi wajah langit...
Buram tertutup mega berarak ...
Hitam...
Pekat...
Air mataku telah habis tercurah...
Saat pengaduanku di singgasana kebencian...
Dan...
Aku tak bisa bergerak...
Raga dikekang rantai berlapis emas perak...
Melingkariku dengan senyum mengejek...
Berjuta mata melirik menerkam relung kalbu...
Aku dilempar dalam jurang kegelapan..
Menuai asa merajut hina...
Aku mati penuh dosa....
Dan bumiku menangis menyaksikan kepergiaan anak manusia
Yang dulu memuja keagunan dunia
Kini membusuk dalam derita...
Langganan:
Postingan (Atom)