Sabtu, 10 November 2018

Cermin Bingkai Lusuh

Cermin bingkai lusuh

Menatap semu wajah lusuh di bingkai dan cermin lusuh. Terekam sejarah dan cerita penuh luka dan bernanah. Membusuk dalam yang terlukis dari gurat-gurat celaka di rupa. Keras. Kehidupan yang di jalani,yang sedang di lalui,dan akan di hadapi. Bukan. Bukan luka...bukan sakit. Bukan...buka tangis dan tintihan. Bukan...bukan kepiluan dan kenistaan. Tidak. Tidak dan tidak. Seluruh hidup memang harus begitu. Karena goresan takdir yang berat dan berduri telah di patri. Karena irama hidup meraung meninggalkan kenangan pahit manis deritanya.
Merenung dalam kilauan cermin di pantulan cahaya surya. Merobek segala asa. Kepergian dan kehadiran bayang semu. Menuai dendam,meracik kebencian. Sesuka bibir bicara. Mencaci maki roda kehidupan. Menampar borok derita sukma. Meronta kedengkian akan janji suci saat berjumpa,gersang dan hampa. Menutupi rupa meleleh air mata. Tangis tidak jafi sahabat yang menyenangkan. Pilu kini jadi sandaran ketakmampuan. Sampai lumpuh.
Cermin dengan bingkai lusuh. Tak bisa merubah bentuk. Tak mungkin membelokkan nasib. Tak mampu melukis keindahan. Tak akan bicara palsu dan kedustaan. Apa adanya.
Rupa yang tertutupi gurat-gurat keras ini bukan kelemahan. Hitam membekas erat bukan kematian. Itulah semangat. Dan terus mengiringi kesakitan. Wajahmu. Wajahku. Wajah mereka. Dan kehidupan harus berlanjut. Bukan dengan tangis air mata. Bukan dengan rintihan meminta cinta. Tapi kerja keras melampaui asa. Membimbing hati merajut cita. Biar luka dan sakit jadi bahagia. Seakan sorga telah di depan mata.
Carmin dan bingkai lusuh. Selalui menunggu cerita-cerita engkau. Menanti rintih tangis dan derai air mata. Dan...cermin yang berbingkai lusuh akan membawamu kembali. Akan mengajakmu terbang mengunjungi alam keinsyafan. Dunia tidak selalui di hadirkan senyum dan tawa. Karena jauh di sudut sana,ada secercah harapan untuk pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar