Assalamualaikum...
Selamat malam sahabat,selamat menikmati waktu istirahat sahabat. Kembali lagi saya ingin berbagi cerita,yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Tanpa panjang lebar,mari kita lanjutkan sedikit cerita yang mungkin bisa menjadi motivasi kita bersama.
Sahabat,...apakah sahabat telah mengenal jiwa sahabat masing-masing? Apakah sahabat telah berbuat sesuatu dengan jiwa sahabat? Bagaimanakah sahabat memperlakukan jiwa sahabat? Seberapa jauh hubungan jiwa dengan sahabat?
Pada postingan yang lalu,saya telah menjabarkan secara singkat tentang jiwa itu. Setelah mengetahuinya,maka timbul pertamyaan-pertanyaan seperti di atas.
Sahabat,..perlu di ketahui bahwa jiwa itu bisa terbentuk sejak lahir (sifat dari kecil/keturuna). Itu adalah hal pertama. Kedua,melalui proses yang panjang,jiwa itu mulai berkembang,dan terus berkembang. Banyak hal yang mempengaruhi perkembangan jiwa itu. Keluarga,faktor utama mempengaruhi jiwa. Keluarga adalah awal pembentukan jiwa. Orang tua,ayah dan ibu adalah aktor utama dalam pembentukan jiwa. Orang tua yang keras dan mendidik dengan cara yang keras akan melahirkan jiwa yang keras pula. Atau,orang tua yang memberikan pengajaran dalam hidup dengan pola sederhana,akan melahirkan jiwa yang sederhana. Kesimpulannya,keluarga,terutama orang tua,akan membentuk jiwa anak-anak mereka,bagaimana jiwa anak tersebut.
Ketika anak mulai beranjak remaja,mereka mulai mengenal kehidupan,meskipun dalam lingkaran pendidikan sekolah. Di sini,anak mulai ingin mengenal jati dirinya. Knp? Saat remaja,anak mulai mempunyai jiwa yang bergelora,keinginan yang kuat,perkembangan otak dan pemikiran mereka mulai terbuka. Mereka mulai di hadapkan dengan berbagai hal yentang dunia luar. Saat ini,jiwa anak mudah dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Tidak heran,banyak di antara mereka menjadi remaja penantang,pembetontak,dan mudah dipengaruhi. Jika mereka salah dalam melangkah,maka jiwa mereka akan tersesat. Jika jiwa mereka telah tersesat,maka sulit untuk memperbaikinya,meskipun demikian,harapan untuk kembali masih terbuka.
Setelah anak mulai beranjak dewasa,jiwa-jiwa mereka telah terbentuk,namun masih belum sempurna. Tetapi,sejujurnya,mereka belum mengenal jauh jiwa mereka. Kedewasaan yang dimiliki masih goyah,masih mudah di pengaruhi oleh hal-hal yang bisa membuat mereka tersesat. Lantas,bagaimana kita bisa mengenal jiwa agar tidak tersesat?
Iman,keyakinan....akan membawa setiap orang mengenal jiwa mereka. Keimanan dan keyakinan akan membentuk jiwa-jiwa yang baik,sebab iman atau keyakinan selalu mengajarkan hal-hal yang baik. Semakin dalam kita berkeyakinan atau iman kita,maka semakin kuat kita mengenal jiwa kita. Namun,perlu di ketahui,ada juga beberapa orang yang mengenal jiwa mereka tanpa keimanan atau keyakinan. Tetapi,jiwa yang di bentuk adalah hampa,egois,penuh dengan kedombongan dan goyah. Jiwa tanpa bimbingan,mudah rapuh oleh kerasnya kehidupan. Jiwa mereka yang di selimuti keimanan,akan membentuk pribadi-pribadi yang baik. Oleh sebab itu,jadikanlah jiwa itu keyakinan,dan keyakinan itu jiwa kita. Keimanan dan keyakinan membuat jiwa yang tulus,jiwa yang kasih dan sayang,jiwa yang ikhlas,jiwa yang selalu tersenyum di dalam suka dan duka kehidupan.
Sahabat....disini dapat di tarik kedimpulan bahwa jiwa itu adalah bentuk halus dalam diri manusia,yang di bentuk melalui proses yang panjang,apa dan bagaimana srrta ke arah mana jiwa itu akan terbentuk. Namun,jiwa itu membutuhkan bimbingan. Dan,keimanan serta keyakinan akan nilai-nilai agama akan membentuk jiwa yang baik pula.
Sahabat...jiwa yang besar adalah jiwa yang baik,yang ikhlas dan mau berbuat,beryindak dan hidup dalam kedamaian. Semoga jiws kita termaduk jiwa yang baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar